Total Tayangan Halaman

Minggu, 13 Maret 2011

UJI TUBERKULIN


Uji Tuberkulin dan Klasifikasi TBC
o    Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam "Screening TBC". Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%.
o    Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif 100%, umur 1–2 tahun 92%, 2–4 tahun 78%, 4–6 tahun 75%, dan umur 6–12 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik.
o    Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 48–72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi.

o    Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
1.
Pembengkakan (Indurasi)
:
0–4mm,uji mantoux negatif.
Arti klinis : tidak ada infeksi Mikobakterium tuberkulosa.
2.
Pembengkakan (Indurasi)
:
3–9mm,uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan Mikobakterium atipik atau setelah vaksinasi BCG.
3.
Pembengkakan (Indurasi)
:
≥ 10mm,uji mantoux positif.
Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa.
o    Pemeriksaan radiologis dapat memperkuat diagnosis, karena lebih 95% infeksi primer terjadi di paru-paru maka secara rutin foto thorax harus dilakukan. Ditemukannya kuman Mikobakterium tuberkulosa dari kultur merupakan diagnostik TBC yang positif, namun tidak mudah untuk menemukannya.


Klasifikasi TBC (menurut The American Thoracic Society, 1981)
Klasifikasi 0
Tidak pernah terinfeksi, tidak ada kontak, tidak menderita TBC
Klasifikasi I
Tidak pernah terinfeksi,ada riwayat kontak,tidak menderita TBC
Klasifikasi II
Terinfeksi TBC / test tuberkulin ( + ), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif).
Klasifikasi III
Sedang menderita TBC
Klasifikasi IV
Pernah TBC, tapi saat ini tidak ada penyakit aktif
Klasifikasi V
Dicurigai TBC

Selasa, 08 Maret 2011

HAPE

SPC Mini 100, QWERTY Mungil dengan TV Analog
  Tren ponsel lokal belakangan kembali ke masa lalu, yakni disain candybar klasik. Tapi, salah satu produk terbaru SPC Mobile tampaknya tetap percaya diri dengan konsep QWERTY. Adalah SPC Mini 100, yang tampil dengan model ‘keypad banyak’ plus dandanan futuristik.
Balutan casingnya menawan dan cantik. Pilihan warnanya atraktif, yakni Ruby dan Snow. Uniknya lagi, dipadu dengan bobot ekstra ringan, dengan tampilan mungil pula, yang menjadikannya nyaman dan manis di genggaman.
Layaknya fitur ponsel lokal lain, SPC Mini 100 dibekali fasilitas pemutar musik dan video (MP3/MP4), radio FM hingga TV tuner analog. Tak ketinggalan dukungan teknologi dual on GSM dan akses langsung (shortcut) ke situs jejaring sosial Facebook dan Twitter.

Guna menjelajah dunia maya SPC Mini 100 menyediakan kanal WAP lewat jalur koneksi GPRS. Untuk kamera sebatas mengandalkan resolusi VGA, belum megapiksel. Harga yang ditawarkan ponsel lokal ini diyakini cukup murah, yakni 300 ribuan. Memang sih, palingan tetap saja mendekati angka 400 ribu.

Spesifikasi:
Jaringan: Dualband GSM (900/1800 MHz) & Dual On; Layar: TFT color; Transfer data: GPRS; Kamera: Ada; Memori eksternal: microSD up to 4GB; Messaging: SMS, MMS; Konektivitas: Bluetooth, kabel data; Browser: WAP; Fitur lain: Polifonik (MP3), TV Analog, MP3/MP4 player, radio FM, Flashlight, Facebook, Twitter, chatting application, Calendar, calculator, alarm, speakerphone; Baterai: Lithium ion

Jumat, 04 Maret 2011

BERITA RINGAN

RUMAH SAKIT RESPIRA*)

Selamat pagi, Sugeng enjang masyarakat Yogya dan sekitarnya, ada kabar gembira bahwa sekarang telah resmi dibuka rumah sakit khusus paru pertama di Yogyakarta yaitu Rumah Sakit paru "RESPIRA”.
            Dilihat dari namanya 'RESPIRA" berasal dari kata respiratory yang berarti pernapasan, jadi rumah sakit ini memang di khususkan untuk menjadi rujukan dalam penanganan penyakit paru dan pernapasan spesialistik dan komprehensif.
Rumah Sakit Paru Respira bukanlah layanan kesehatan paru yang baru bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, tetapi rumah sakit ini merupakan perkembangan dari Balai Pengobatan penyakit paru-paru (BP4) Unit Bantul Yogyakarta, yang lebih dikenal dengan sebutan Samalo palbapang. Rumah sakit ini berlokasi di Jl. Panembahan senopati palbapang No.4 Bantul, sekitar 12 km arah Selatan Kota Yogyakarta.
Sejarah BP4 Yogyakarta
Awal berdirinya tahun 1950, BP4 Yogyakarta bernama Lembaga Pemberantasan Penyakit Paru-Paru (LP4) Kementerian Kesehatan Rl, yang mempunyai tugas dan kewenangan mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemberantasan penyakit paru-paru. Kemudian mengalami beberapa kali reorganisasi. Tahun 1978 melalui Keputusan Menteri Kesehatan Rl Nomor : 144/Men.Kes/lV/78 tanggal 28 April 1978, LP4 berubah menjadi Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru yang berada dibawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan Rl.
Pada saat otonomi daerah tahun 2002 kepemilikan BP4 Yogyakarta dilimpahkan dari Departemen Kesehatan Rl kepada Pemerintah Propinsi DIY sebagai UPT Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Provinsi DIY melalui Perda No. 7 Tahun 2002. Uraian tugas dan tata kerja BP4 dituangkan dalam Keputusan Gubernur No. 160 Tahun 2002, dimana BP4 mempunyai fungsi membantu pemerintah dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas penyakit paru.
Pada tahun 2004 berdasarkan Keputusan Gubernur DlY Nomor : 114 Tahun 2004 BP4 Yogyakarta merupakan UPT (Unit Pelaksana Teknis) Dinas Kesehatan Propinsi DIY dengan 5 unit pelayanan yang tersebar di lima lokasi di empat Kabupaten/Kota yaitu :
1.     BP4 Yogyakarta (Kota) adalah unit rawat jalan dan pusat administrasi serta kepegawaian BP4 Yogyakarta.
2.     Unit Kotagede (Kota) terdiri dari unit rawat jalan dan rawatinapdengan 20 TT.
3.     Unit Kalasan (Sleman) terdiri dari unit rawat jalan dan unit rawat inap dengan 15 TT.
4.     Unit BANTUL CIKALBAKALRUMAH SAKITPARU RESPIRA.
5.     Unit Wates (Kulonprogo)adalah rawat jalan.
Bila dilihat dari Pedoman Pelayanan Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan maka sebuah balai pengobatan hanya melaksanakan pelayanan kesehatan dasar rawat jalan. Padahal sejak berdirinya Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Yogyakarta mempunyai 2 rawat inap dengan kapasitas 35 TT(Kotagede 20 TTdan Kalasan 15 TT).
Embrio Rumah Sakit Paru RESPIRA
Dalam rangka menjawab dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan paru yang semakin kompleks maka muncullah gagasan besar lahirnya Rumah sakit paru pertama di Yogyakarta. Beberapa tahapan telah diproses untuk menggodog embrio rumah sakit ini, mulai dari pembentukan tim perumus, penyusunan grand design, studi kelayakan pengembangan BP4 Yogyakarta oleh konsultan eksternal, sosialisasi dan advokasi dengan pejabat yang berwenang serta penyiapan sumber daya rumah sakit.
Dari hasil pembahasan dan studi kelayakan tahun 2007 maka 1 unit sedang dipersiapkan untuk menjadi Rumah Sakit Khusus Paru yang nantinya dapat menanggulangi secara aktif masalah kesehatan paru dan pernapasan diwilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Pasca gempa yang melanda Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 maka pada tahun 2007 Japanesse Red Cross Society (JRCS) Yogyakarta Earthquake Realief Recontruction Project memberikan bantuan berupa pembangunan gedung yang bedokasi di belakang gedung rawat jalan BP4 Unit Bantul. Gedung yang megah tersebut terdiri dari 3 lantai, dengan luas tanah 1856 m2, Land area 520,2 m2, building cover 383,1 m2, total bangunan 1149,5 m2. Yang akhirnya tanggal 10 Maret 2009, gedung tersebut diserahterimakan dari JRCS kepada Pemerintah Provinsi DlY.
Atas kerja keras dari semua pihak maka mulai bulan April 2009, Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Unit Bantul Yogyakarta telah difungsikan sebagai rawat inap embrio dari Rumah Sakit Paru Respira.
Serangkaian proses menjadi rumah sakit terus berjalan yang akhirnya diperkuat Surat Keputusan Dinas Kesehatan Provinsi DIY Nomor 44513677 N. tanggal 4 Mei 2010 sebagai ijin operasional Rumah Sakit Paru RESPIRA.
Dengan berkembangnya status BP4 Yogyakarta menjadi sebuah Rumah Sakit Khusus Paru maka pelayanan harus meningkat yaitu pelayanan spesialis paru dengan dilengkapi UGD siaga 24 jam dan didukung peralatan yang canggih.
Fasilitas Rumah Sakit Respira :
1.     Pelayanan Rawat lnap yang terbagi atas kelas l, ll, lll serta ruang isolasi.
-         Kelas l terdiri 6 TT(6kamar)
-         Kelas ll terdiri 12 TT(6kamar)
-         Kelas lll terdiri 16 TT(4kamar)
-         Kelas isolasi terdiri 3 TT (3 kamar)
-         Ruang ICU terdiri 2 TT(1 kamar)
2.     Pembagian ruang infeksius dan ruang non infeksius.
3.     Peralatan diagnosa paru yang lengkap ; USG, EKG, Bronkhoskopi, mantoux tes, WSD, rontgen paru, spirometri,
4.     Laboratorium lengkap
5.     Fisioterapi paru
6.     Pelayanan konseling : konseling berhenti merokok, gizi, sanitasi dan konseling penderita penyakit paru.
Dengan berdirinya Rumah Sakit Paru Respira maka 4 unit BP4 Yogyakarta yang lain tetap beroperasi melayani penyakit paru dengan fasilitas yang memuaskan dan harga yang terjangkau. Rumah Sakit Paru Respira tetap menerima pasien dengan kartu Jamkesmas dan Jamkessos.
Semoga keberadaan Rumah Sakit Paru Respira dan BP4 Yogyakarta menjadi referensi masyarakat dalam penanganan penyakit paru di Yogyakarta dan sekitarnya. Dan semoga senantiasa memberikan pelayanan prima untuk bersama-sama menye hatkan masyarakat.
BRAVO RESPIRA'

*)Sumber : BULETIN RESPIRA EDISI III/2010/RESPIRA OLEH HENI FATMAWATI, SKM
(tanpa mengalami perubahan dari teks asli).

Sabtu, 08 Januari 2011




PUNGGAWA RS PARU TEMPO DOELOE

RESPIRA

Mungkin kata 'RESPIRA' bagi orang awam masih sangat asing terdengar. Kata tersebut sering digunakan dalam dunia kesehatan berasal dari bahasa asing yang berarti pernafasan. Kata tersebut akan digunakan sebagai nama sebuah rumah sakit di wilayah Bantul, yang kira-kira akan berbunyi "RUMAH SAKIT RESPIRA BANTUL". Yaitu sebuah UPT dari Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang berfungsi sebagai bentuk layanan kepada masyarakat yang mengalami gangguan pernafasan.

Demikian sekelumit kalimat yang bisa di tulis untuk pendahuluan. Terima Kasih